Pages

Pengikut

Senin, 19 November 2012

Metode Penambangan

Secara garis besar metode penambangan dikelompokkan menjadi 3, yaitu :
  1. Tambang terbuka (surface mining) : adalah metode penambangan yang segala kegiatan atau aktivitas penambangannya dilakukan di atas atau relatif dekat dengan permukaan bumi, dan tempat kerjanya berhubungan langsung dengan udara luar.
  2. Tambang dalam/tambang bawah tanah (underground mining) : adalah metode penambangan yang segala kegiatan atau aktivitas penambangannya dilakukan di bawah permukaan bumi, dan tempat kerjanya tidak langsung berhubungan dengan udara luar.
  3. Tambang bawah air (underwater mining) : adalah metode penambangan yang kegiatan penggaliannya dilakukan di bawah permukaan air atau endapan mineral berharganya terletak dibawah permukaan air.


    Tambahan
     
  4. Tambang Ditempat (Insitu Mining or Novel Mining).
Pemilihan metode penambangan dilakukan berdasarkan pada keuntungan terbesar yang akan diperoleh, bukan berdasarkan letak dangkal atau dalamnya suatu endapan, serta mempunyai perolehan tambang (mining recovery) yang paling baik.
Dari 4 kelompok besar metode penambang tersebut menurut Hartman, 1987 dibagi-bagi menjadi metode-metode penambangan yang lebih spesifik seperti pada Tabel 3.1 berikut.
Tabel 3.1. Klasifikasi Metode Penambangan, (Hartman, 1987)
SISTEM KELAS METODE BAHAN GALIAN
Konvensional
Tambang Terbuka Mekanis Aquaeous Open pit mining* Quarrying*
Opencast mining*
Auger mining
Hydraulicking*
Dregding *
Metal, non-metal Non-metal
Batubara, non-metal
Batubara, metal, non-metal
Metal, non-metal
Metal, non-metal
Tambang Bawah Tanah Swa-sangga (Self-supported) Room & Pillar mining* Stope & Pillar mining*
Underground gloryhole
Gophering
Shrinkage stoping
Sublevel stoping *
Batubara, non-metal Metal, non-metal
Metal, non-metal
Metal, non-metal
Metal, non-metal
Metal, non-metal
Berpenyangga buatan (Supported) Cut & Fill stoping * Stull stoping
Square set stoping
Metal Metal
Metal
Ambrukan (Caving) Longwall mining * Sublevel caving
Block caving *
Batubara, non metal Metal
Metal
Inkonvesional
Novel Penggalian cepat Automasi, Robotik
Gasifikasi bawah tanah
Retorting bawah tanah
Tambang samudera
Tambang nuklir
Tambang luar bumi
Batuan keras Semua
Batubara, batuan lunak
Hidrokarbon
Metal
Non-batubara
Metal, non-metal
Pemilihan Metode Penambangan Dalam kegiatan penambangan, aturan utamanya adalah memilih suatu metoda penambangan yang paling sesuai dengan karakteristik unik (alam, geologi, lingkungan dan sebagainya) dari endapan mineral yang ditambang di dalam batas keamanan, teknologi dan ekonomi, untuk mencapai ongkos yang rendah dan keuntungan yang maksimum. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan tersebut adalah :

  1. Karakteristik spasial dari endapan
Factor-faktor ini merupakan faktor penting yang dominan karena umumnya sangat menentukan dalam pemilihan metode penambangan antara tambang terbuka dengan tambang bawah tanah, penentuan tingkat produksi, metode penanganan material, dan bentuk tambang dalam badan bijih. Factor-faktor tersebut meliputi :

  1. Ukuran (dimensi, terutama tinggi dan tebal)
  2. Bentuk (tabular, lenticular, massive, irregular)
  3. Orientasi (dip/inklinasi)
  4. Kedalaman (rata-rata dan nilai ekstrem, yang akan berimbas pada stripping ratio)


  1. Kondisi geologi dan hidrogeologi
Karakteristik geologi, baik dari badan bijih maupun batuan samping, akan mempengaruhi pemilihan metode penambangan, terutama dalam pemilihan antara metode selektif dan nonselektif serta pemilihan system penyanggaan pada system penambangan bawah tanah. Hidrologi berdampak pada kebutuhan akan penyaliran dan pemompaan, sedangkan aspek mineralogy akan menentukan syarat-syarat pengolahan.

  1. Mineralogi dan petrologi (Sulfida vs Oksida),
  2. Komposisi kimia
  3. Struktur endapan (lipatan, sesar, ketidakmenerusan, intrusi)
  4. Bidang lemah, (kekar, rekahan)
  5. Keseragaman, alterasi, erosi (zona dan daerah pembatas)

  1. Air tanah dan hidrologi (kemunculan, debit aliran dan muka air)


  1. Sifat-sifat geoteknik (mekanika tanah dan mekanika batuan) untuk bijih dan batuan sekelilingnya. Hal-hal ini akan mempengaruhi pemilihan peralatan pada system penambangan terbuka dan pemilihan klas metode dalam system tambang bawah tanah (swasangga, berpenyangga atau ambrukan)
    1. Sifat-sifat fisik yang lain (bobot isi, voids, porositas, permeabilitas, lengas)
    2. Sifat elastik (kekuatan, modulus elastik, nisbah, dan lain-lain)
    3. Perilaku elastik atau visko elastik (flow, creep)
    4. Keadaan tegangan (tegangan awal, induksi)
    5. Konsolidasi, kompaksi dan kompeten (kemampuan bukaan pada kondisi tanpa penyangga)


  1. Konsiderasi ekonomi
Faktor-faktor ini akan mempengaruhi hasil, investasi, aliran kas, masa pengembalian dan keuntungan. Faktor ini meliputi :
  1. Cadangan (tonase dan kadar),
  2. Produksi,
  3. Umur tambang,
  4. Produktivitas,
  5. Perbandingan ongkos penambangan untuk metode penambangan yang cocok
  6. Faktor teknologi
Kondisi paling cocok antara kondisi alamiah endapan dan metode penambangan adalah yang paling diinginkan. Sedangkan metode yang tidak cocok mungkin tidak banyak pengaruhnya pada saat penambangan, tetapi kemungkinan akan mempengaruhi pada kegiatan pendukung tambang/terusannya (pengolahan, peleburan, dll). Yang termasuk dalam faktor teknologi adalah  :
  1. Perolehan tambang, Dilusi (jumlah waste yang dihasilkan dengan bijih),
  2. Ke-fleksibilitas-an metode dengan perubahan kondisi,
  3. Selektifitas metode untuk memisahkan bijih dan waste,
  4. Konsentrasi atau dispersi pekerjaan,
  5. Modal, pekerja dan intensitas mekanisasi
  1. Faktor lingkungan
Factor lingkungan yang dimaksud tidak hanya berupa lingkungan fisik saja, tetapi juga meliputi lingkungan social-politik-ekonomi. Yang termasuk dalam faktor lingkungan adalah :
Prosedur pemilihan metoda penambangan secara ringkas dapat ditunjukkan oleh Gambar 3.1.
Gambar 3.1. Prosedur pemilihan metode penambangan
Metode dan prinsip penambangan yang telah dijelaskan sebelumnya melibatkan masalah-masalah geomekanika dan operasional.  Pengelola industri harus bisa memilih metode  panambangan yang paling tepat untuk cebakan bijih tertentu. Selain karakteristik badan bijih yang mempengaruhi pemilihan metode panambangan, karakteristik operasional khusus untuk setiap metode penambangan secara langsung juga ikut mempengaruhi pemilihan metode penambangan.
Karekteristik operasional tersebut meliputi:
a. Skala penambangan
b.  Laju produksi
c.  Selektivitas
d.  Persyaratan pekerja
e.  Keluwesan ekstraksi

Keputusan terakhir dalam pemilihan metode penambangan akan merefleksikan sifat-sifat mekanik dari badan bijih dan lingkungannya serta hal-hal teknik praktis lain. Misalnya, non-selective method seperti block caving tidak akan diterapkan pada cebakan bijih dimana selective recovery diperlukan, walaupun cebakan tersebut sangat sesuai untuk ditambang dengan metode block caving.

Kadang-kadang muncul permasalahan bahwa pemilihan metode penambangan dapat menimbulkan beberapa kesulitan teknis. Kesulitan yang timbul adalah bagaimana menggabungkan bebarapa faktor yang berpengaruh agar bisa memutuskan metode penambangan yang sesuai untuk suatu cebakan bijih. Berdasarkan perkembangan filosofi dan sejarah ilmu pertambangan, metode penambangan dikembangkan untuk dapat mengakomodir dan mengeksploitasi beberapa kondisi penambangan. Prosedur paling baik yang dapat dikembangkan dalam pemilihan metode penambangan adalah dengan melibatkan logika berpikir suatu sistem komputer.

Pemilihan metode panambangan sulit diterapkan bila berhadapan dengan badan bijih besar yang harus ditambang dengan dua metode panambangan yang berbeda, misalnya block caving dan open stoping. Block caving akan menjadi metode yang lebih disukai karena jumlah tenaga kerja yang sedikit, biaya per tonne yang rendah dan keuntungan-keuntungan teknis lainnya. Prasyarat utama yang harus dipenuhi adalah bahwa ambrukan dapat diinisiasi pada badan bijih dan merambat dengan kecepatan konstan melalui badan bijih sebagai broken ore. Kapan ambrukan dapat diterapkan pada suatu badan bijih ? Jawabannya bukan hal yang sederhana. Solusi praktis untuk menjawab pertanyaan ini (mengerti tentang mekanisme ambrukan) dapat ditemukan pada klasifikasi geomekanik yang dimodifikasi berdasarkan kondisi massa batuan di daerah penambangan.

Tujuan utama dalam pemilihan suatu metode untuk menambang suatu endapan mineral adalah dalam rangka merancang suatu sistem eksploitasi yang paling sesuai dengan kondisi sebenarnya. Dalam hal ini pengalaman berperan utama dalam pengambilan keputusan, yang memerlukan banyak pertimbangan berdasarkan evaluasi rekayasa. Evaluasi tersebut dilakukan dalam tiga tahap seperti pada Gambar 3.1, yaitu studi
konseptual, studi rekayasa, dan studi rancangan rinci. Hasilnya ialah sebuah laporan rekayasa final. Contoh pedoman untuk penentuan metode penambangan terbuka berdasarkan kekuatan bijih dan batuan di sekitarnya serta geometri cadangan menurut Hartman (1987) dapat dilihat pada Tabel 3.2.
Resume dari tabel tersebut adalah :
  1. Tambang terbuka umumnya lebih serba guna, terutama berkaitan dengan kekuatan bijih dan batuan samping, dip endapan, dan kadar bijih, tetapi sangat bergantung dengan bentuk dan ukuran endapan, keseragaman kadar dan kedalaman (keduanya mutlak dan bergantung pada nisbah kupas/stripping ratio)
  2. Penerapan ideal pada endapan yang besar, perlapisan datar (atau massif) dengan sebaran secara mendatar luas dan tebal dan keterdapatannya dekat permukaan.
  3. Kurang cocok untuk endapan yang kecil, tipis, kadar tidak merata, kemiringan besar dan posisinya dalam.
  4. Penambangan dengan ekstraksi mekanis lebih konvensional, banyak diterapkan, mudah dalam pelaksanaannya dan fleksibel dalam perubahan metode penambangan.
  5. Penambangan dengan ekstraksi aqueous lebih murah dan cocok untuk diterapkan pada endapan kecil dengan kadar yang bervariasi, tetapi sangat terbatas penerapannya pada endapan yang rentan terhadap terhadap air dan jika pemenuhan kebutuhan air memerlukan biaya yang mahal.
Sedangkan contoh pedoman untuk penentuan metode penambangan bawah tanah berdasarkan kekuatan bijih dan batuan di sekitarnya serta geometri cadangan menurut Hartman (1987) dapat dilihat pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2. Pemilihan Metode Penambangan Terbuka Berdasarkan Kekuatan Bijih Dan Batuan Serta Geometri Cadangan
konseptual, studi rekayasa, dan studi rancangan rinci. Hasilnya ialah sebuah laporan rekayasa final.
Contoh pedoman untuk penentuan metode penambangan terbuka berdasarkan kekuatan bijih dan batuan di sekitarnya serta geometri cadangan menurut Hartman (1987) dapat dilihat pada Tabel 3.2.
Resume dari tabel tersebut adalah :
  1. Tambang terbuka umumnya lebih serba guna, terutama berkaitan dengan kekuatan bijih dan batuan samping, dip endapan, dan kadar bijih, tetapi sangat bergantung dengan bentuk dan ukuran endapan, keseragaman kadar dan kedalaman (keduanya mutlak dan bergantung pada nisbah kupas/stripping ratio)
  2. Penerapan ideal pada endapan yang besar, perlapisan datar (atau massif) dengan sebaran secara mendatar luas dan tebal dan keterdapatannya dekat permukaan.
  3. Kurang cocok untuk endapan yang kecil, tipis, kadar tidak merata, kemiringan besar dan posisinya dalam.
  4. Penambangan dengan ekstraksi mekanis lebih konvensional, banyak diterapkan, mudah dalam pelaksanaannya dan fleksibel dalam perubahan metode penambangan.
  5. Penambangan dengan ekstraksi aqueous lebih murah dan cocok untuk diterapkan pada endapan kecil dengan kadar yang bervariasi, tetapi sangat terbatas penerapannya pada endapan yang rentan terhadap terhadap air dan jika pemenuhan kebutuhan air memerlukan biaya yang mahal.
Sedangkan contoh pedoman untuk penentuan metode penambangan bawah tanah berdasarkan kekuatan bijih dan batuan di sekitarnya serta geometri cadangan menurut Hartman (1987) dapat dilihat pada Tabel 3.3.
� � p n � �/ r bisa memutuskan metode penambangan yang sesuai untuk suatu cebakan bijih. Berdasarkan perkembangan filosofi dan sejarah ilmu pertambangan, metode penambangan dikembangkan untuk dapat mengakomodir dan mengeksploitasi beberapa kondisi penambangan. Prosedur paling baik yang dapat dikembangkan dalam pemilihan metode penambangan adalah dengan melibatkan logika berpikir suatu sistem komputer.Pemilihan metode panambangan sulit diterapkan bila berhadapan dengan badan bijih besar yang harus ditambang dengan dua metode panambangan yang berbeda, misalnya block caving dan open stoping. Block caving akan menjadi metode yang lebih disukai karena jumlah tenaga kerja yang sedikit, biaya per tonne yang rendah dan keuntungan-keuntungan teknis lainnya. Prasyarat utama yang harus dipenuhi adalah bahwa ambrukan dapat diinisiasi pada badan bijih dan merambat dengan kecepatan konstan melalui badan bijih sebagai broken ore. Kapan ambrukan dapat diterapkan pada suatu badan bijih ? Jawabannya bukan hal yang sederhana. Solusi praktis untuk menjawab pertanyaan ini (mengerti tentang mekanisme ambrukan) dapat ditemukan pada klasifikasi geomekanik yang dimodifikasi berdasarkan kondisi massa batuan di daerah penambangan.
Tujuan utama dalam pemilihan suatu metode untuk menambang suatu endapan mineral adalah dalam rangka merancang suatu sistem eksploitasi yang paling sesuai dengan kondisi sebenarnya. Dalam hal ini pengalaman berperan utama dalam pengambilan keputusan, yang memerlukan banyak pertimbangan berdasarkan evaluasi rekayasa. Evaluasi tersebut dilakukan dalam tiga tahap seperti pada Gambar 3.1, yaitu studi
 
Tabel 3.2. Pemilihan Metode Penambangan Terbuka Berdasarkan Kekuatan Bijih Dan Batuan Serta Geometri Cadangan


Kekuatan bijih
dan batuan
Klasifikasi sistem     penambangan Geometri          cadangan Metode Penambangan
Bijih : kuat sampai         moderat
Tabular, datar, tipis, ukuran besar Room & Pillar

Swa – SanggaSelf – Supported Tabular, datar, tebal,ukuran besar Stope & Pillar
Batuan : kompeten (tidak runtuh meski tidak disangga)
Tabular, miring, tipis,ukuran sembarang Shrinkage Stoping


Tabular, miring, tebalukuran besar Sub-level Stoping




Bijih: Moderat             sampai lemah
Bentuk tak teratur, miring, tipis, ukuran sembarang Cut & Fill Stoping

Penyangga buatanArtifically supported Tabular, miring, tipis, ukuran kecil Stull Stoping
Batuan: Inkompeten (runtuh jika tidak disangga)
Bentuk, kemiringan ukuran sembarang, tebal Square Set Stoping




Bijih : Moderat           sampai lemah
Tabular, datar, tipis, ukuran besar Longwall

AmbrukanCaving Tabular atau masif, miring, Sub-level caving
Batuan : cavable (dapat ambruk)
Masif, miring, tebal, ukuran besar Block Caving

Tidak terlepas dari pedoman di atas, terdapat pedoman umum dalam menentukan apakah akan menggunakan tambang bawah tanah atau tambang terbuka. Metode tambang bawah tanah diterapkan jika kedalaman endapan, dan atau nisbah pengupasan (stripping ratio) overburden terhadap bijih (atau batubara atau mineral berharga lainnnya) menjadi sangat besar untuk ditambang dengan metode tambang terbuka.

Metode penambangan yang biasa diterapkan didasarkan pada cara penyanggaan (lihat pada Gambar 3.2).  Pada gambar ini ditunjukkan bagaimana perubahan pada perpindahan dan strain energy di daerah near field.
Laubscher (1977) melakukan penelitian tentang hubungan antara sifat geomekanik batuan dengan kemudahan caving atau stoping.  Pola pengklasifikasian yang disusun oleh Laubscher menampilkan hasil korelasi antara kinerja metode penambangan  dengan kondisi massa batuan di dalam serta di sekitar badan bijih asbestos dan emas di Zimbabwe.  Pola Laubscher merupakan pengembangan asli dari teknik klasifikasi geomekanik lainnya.  Penerapan pola Laubscher dalam pemilihan metode panambangan dan aspek-aspek lain dalam perencanaan dan perancangan tambang telah dijabarkan oleh Laubscher (1981) seperti ditunjukkan pada Tabel 3-3.

Klasifikasi Laubscher memberikan perkiraan kuantitatif atau indeks sifat massa batuan (angka dalam interval 0-100) yang digunakan untuk menentukan urutan kelas (1-5).  Setiap kelas berada pada interval indeks 20.  Kelas 1 massa batuan diartikan kondisi insitu material dengan kekuatan tinggi, frekuensi kekar yang kecil, kuat gesar kekar yang tinggi, dan tekanan air yang rendah.  Berdasarkan uraian ringkas tentang mekanisme ambrukan yang diberikan pada bagian awal,  jelas bahwa massa batuan dengan urutan kelas yang tinggi tersusun oleh kekar yang banyak dan bersifat getas, akan sangat sesuai bila dilakukan ambrukan.

Penyelidikan Laubscher dapat menerangkan hubungan langsung antara nomer kelas dengan faktor kinerja, misalnya kecenderungan massa batuan untuk menahan ambrukan (seperti cavability), ukuran butiran bijih, keperluan secondary blasting pada drawpoint (yang mempunyai hubungan terbalik dengan fragmentasi alami) dan kebutuhan dimensi undercut untuk menginisiasi ambrukan. Parameter terakhir dijelaskan sebagai jari-jari hidraulik ekivalen, misalnya perbandingan luas undercut terhadap keliling undercut untuk menghitung geometri penggalian.
Interpretasi data pada Tabel 3-4 menunjukkan bahwa untuk kelas geomekanik 3-5 lebih baik menerapkan metode penambangan ambrukan. Untuk kelas 1 dan 2, metode penambangan open stope akan lebih baik diterapkan. Sebagai tambahan, Tabel 3-1 tidak selamanya harus dijadikan patokan, karena dapat juga memperhitungkan kondisi lainnya. Misalnya untuk kelas geomekanik III-3, penerapan ambrukan dapat dilakukan dengan memperhitungan orientasi kekar dan pengaruhnya terhadap ambrukan. Kendorski (1978) menyebutkan perlu adanya critical factor dalam mengaplikasikan ambrukan pada badan bijih bila terdapat kekar sub-horisontal.
Informasi pada Tabel 3-4 untuk ukuran undercut akan sangat berguna dalam memperkirakan tata latak ambrukan.  Misalnya untuk panel ambrukan dengan penggalian undercut segiempat, dan kelas massa batuan 4, rata-rata jari-jari ekivalen yang disarankan adalah 14 m dengan dimensi undercut 56 m.  Perhitungan dimensi undercut  harus dilengkapi dengan analisis detail kondisi spesifik  massa batuan,  misalnya kondisi tegangan insitu dan kekuatan massa batuan.  Bagaimanapun bagusnya klasifikasi geomekanik tersebut, hal tersebut diperoleh berdasarkan pengalaman, sehingga masih diperbolehkan keputusan-keputusan lain dalam aplikasinya.


Tabel 3-4. Unjuk kerja ambrukan untuk berbagai kelas geomekanik dari massa batuan (Laubscher, 1981).
Kelas geomekanik 1 2 3 4 5

Cavability

Tidak terjadi Buruk Sedang Baik Sangat baik
Ukuran fragmen - Besar Sedang Kecil Sangat kecil
Secondary blasting - Tinggi Medium Kecil sangat kecil
Dimensi undercut (m)* - 30 30 – 20 20 – 8 8
* Jari-jari hidraulik ekivalen
3.3.  TAMBANG TERBUKA ATAU TAMBANG BAWAH TANAH
Operasi penambangan meliputi : pemboran dan peledakan yang dilakukan untuk memecah batuan, pemuatan dan pengangkutan, atau dapat juga ditambahkan proses peremukan bijih untuk menghasilkan ukuran yang sesuai.  Operasi tersebut dapat diterapkan pada tambang bawah tanah, open pit, atau penambangan di laut.  Operasi yang sama juga dilakukan pada berbagai pekerjaan konstruksi, misalnya pembuatan jalan, PLTA, dll.  Sebelum sampai pada analisis ekonomi yang sangat mempengaruhi pemilihan tambang bawah tanah atau open pit dan pada kondisi bagaimana harus dilakukan perubahan dari open pit ke tambang bawah tanah atau sebaliknya, sangat menarik  bila dipertimbangkan beberapa faktor-faktor umum.
3.3.1.  Tambang Terbuka vs Tambang Bawah Tanah
3.3.1.1. Produksi
Tabel 3-5 menunjukkan jumlah material yang ditangani pada penambangan open pit dan tambang bawah tanah di tahun 1973. Di dunia barat, industri pertambangan dapat menangani material sebanyak 3 milyar ton bijih/ tahun.
Metode penambangan bervariasi sesuai dengan jenis logamnya.  Bijih besi dan tembaga lebih sering ditambang dengan metode open pit.  Untuk emas, nikel, timbal, dan seng lebih sering ditambang dengan metode bawah tanah.
Tabel 3-5.  Jumlah material yang dipindahkan selama penambangan dan pekerjaan konstruksi tahun 1973  (Committee for Mineral Policy, 1978)
106 m3 %

Penambangan

Terbuka
Bawah tanah
1550
620
41
17

Pekerjaan konstruksi

Terbuka
Bawah tanah
1450
130
39
3
3750 100
Jumlah penambangan bijih dengan open pit bervariasi untuk setiap negara.  Di USA sekitar 85% penambangan bijih logam dilakukan melalui open pit tetapi untuk negara Swedia hanya 30%.
Tabel 3-6 memperlihatkan jumlah penambangan open pit dan bawah tanah di dunia barat yang menghasilkan 150.000 ton bijih/ tahun (tidak termasuk tambang batubara).  Tabel 3-5 dapat mewakili 90% produksi tambang di seluruh belahan dunia yang meningkat dari 1.900 juta sampai 3-500 juta ton per tahun selama periode 1968-1977.
Tabel 3-6 menunjukkan bahwa produksi tambang meningkat bukan karena peningkatan jumlah industri pertambangan, tetapi lebih dikarenakan perluasan daerah penambangan.  Jumlah industri pertambangan besar meningkat, dan selama periode waktu yang sama, jumlah tambang kecil dan medium meningkat dengan konstan atau sebaliknya menurun menjadi semakin kecil.
3.3.1.2.  Perkembangan Produksi
Perkembangan teknis yang cepat selama beberapa dekade terakhir menghasilkan peningkatan produktivitas yang tinggi. Produktivitas menunjukkan peningkatan yang lebih besar pada tambang-tambang besar dibandingkan tambang-tambang kecil serta lebih tinggi diperoleh dari tambang terbuka daripada tambang bawah tanah.  Pada tambang terbuka hanya terdapat sedikit pembatasan untuk bisa mempergunakan mesin-mesin dengan kapasitas yang besar, berbeda dengan tambang bawah tanah yang dibatasi oleh ruang kerja yang sempit.
Pada studi perbandingan antara tambang terbuka di USA dengan tambang bawah tanah di Swedia yang telah dilakukan beberapa memperlihatkan bahwa produksi tambang terbuka per tambang secara berkala lebih menunjukkan peningkatan dibandingkan tambang bawah tanah, tetapi prosentase peningkatan lebih besar terjadi pada tambang bawah tanah. Sejak awal abad masehi, untuk tambang terbuka produktivitas meningkat sebanyak 250% dan untuk tambang bawah tanah 350%, dan produktivitas mulai meningkat akhir-akhir ini pada tambang bawah tanah besar dibandingkan tambang bawah tanah kecil.

0 comments:

Poskan Komentar